Balasan bagi yang meremehkan Al-Qur'an

   Muhammad Ath-Thahir bin Asyur menuturkan dalam tafsirnya At-Tahrir wa At-Tanwir, sebuah hikayat yang termaktub dalam tafsir Al-Kassyaf di penghujung tafsir surat Al-Mulk ayat 30.
"Katakanlah (Muhammad), Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir?" (QS.Al-Mulk:30).

Pengorbanan Seorang Ibu

Salah seorang anggota pertahanan sipil (pemadam kebakaran) menuturkan kisahnya sebagai berikut:
   Kami sampai pada sebuah rumah yang sedang terbakar. Di dalam rumah, ada seorang ibu dengan tiga anaknya. Api berasal dari salah satu kamar. Sang ibu berusaha keluar dari rumah, tetapi semua pintu terkunci rapat. Kemudian ia dengan ketiga anaknya bergegas naik ke atap rumah agar bisa keluar melalui pintunya, ternyata terkunci juga. Ia berusaha membukanya, tetapi tidak juga berhasil. Ia terus berupaya membukanya, sehingga keletihan menghentikan upayanya. Api pun semakin naik,

Sebuah Pesan

     Saat itu, aku duduk dibangku kelas persiapan. Shalat fardhu lima waktu sering aku tinggalkan. Tidak pernah aku memperdulikan serta memperhatikan shalatku. Terkadang mengajarkannya, terkadang meninggalkannya. Demi Allah, aku melakukan ini itu (gerakan shalat), namun aku tak paham apa yang aku ucapkan.

Akibat Kecerobohan

   Ini merupakan kisah nestapa yang dialami oleh seorang wanita akibat seorang pria ceroboh. Bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau melenyapkan nyawa manusia. Demi Allah aku sangat terharu dengan kisah ini. Semoga Allah menjadikannya pelajaran bagi kita semua. Dan semoga Allah memberinya ganti dari sisi-Nya dengan kebaikan musim gugur yang tidak datang musim semi setelahnya.

Anak Temuan

   Dr. Adil Al-Abd Al-Jabbar menuturkan:
   Suatu ketika, seorang wanita berusia tiga puluh lima tahun menghubungiku via telepon.
Ia berkata kepadaku, "Sebelum aku memulai pembicaraan ini, berkenankah jika anda kuanggap sebagai saudaraku sendiri?".
"Iya," jawabku.
"Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku akan bercerita kepadamu tanpa ada sesuatu pun yang aku tutupi." ujarnya.

Balas Dendam

   Kukorbankan kuliah demi sebuah pernikahan, juga karena takut 'tertinggal kereta'. Ya, aku menikah, tetapi setelah itu, kulihat satu wajah yang berbeda pada pria yang kunikahi itu. Sebebnya, dan yang patut disayangkan, aku mau hidup bersamanya di rumah keluarga besarnya. Di rumah itu, aku sering diserang oleh ibunya dan saudara-saudara perempuannya yang belum menikah. Mereka

Hilangnya Sebuah Kehormatan

   Wanita itu menuturkan:
   Aku tidak ingin kalian menuliskan kisah tragisku ini dengan judul “Hilangnya Sebuah Kehormatan”, tapi tulislah dengan judul “Air Mata Penyesalan”. Sungguh, air mata demi air mata, menahan rasa sakit yang tiada henti. Juga penghinaan. Semua memandangku rendah,

Korban Terus Berjatuhan

  Sebelum memulai kisah ini, aku sampaikan bahwa aku seorang yang berlumuran dosa karena mendurhakai Rabbnya. Sehingga nikmat kebahagiaan berganti derita. Dan lisan pun kelu berganti derai air mata. Aduhai, betapa meruginya diri ini.

Yang Tertipu

   Tidak pernah terbayangkan olehku akan melihat sesuatu dengan mata kepalaku sendiri. Sesuatu yang kusaksikan dengan kesadaran penuh dan kejernihan akalku. Namun terkadang, bisa saja seseorang melihat apa yang tidak disukainya, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa, terlebih bila ia sendiri yang menyebabkan itu terjadi.

Nasehat yang Menjerumuskan


  Dahulu, aku tak dapat melihat kebenaran, pun tak dapat menerimanya. layaknya sebuah mainan, hidupku selalu diatur oleh kakak perempuanku. Ia istri dari seorang pria lugu, tidak memiliki kepribadian yang kuat. Segala urusan rumah tangga diserahkan dan diatur sepenuhnya oleh kakakku.

Saat-saat Penyesalan yang Lama

Seorang kawan menuturkan sebuah kisah.

  Pernah suatu hari, aku berdiri di depan seorang penjual buah, hendak membeli jeruk lemon. Kumasukkan jeruk pilihanku ke dalam timbangan. Sembari memberikan kantong, aku katakan pada penjual itu, "Aku mau setengah kilogram jeruk lemon."

Penyesalan

Seorang wanita menuturkan kisah penyesalannya.

  Aku wanita berusia 23 tahun. Pernah mengalami satu trauma akibat kecerobohanku sendiri. Sungguh, kuakui, aku pernah melakukan satu kesalahan yang membuatku harus menyesalinya sepanjang hidup. Sebuah kesalahan yang membuatku tenggelam dalam lautan penyesalan.

Balasan yang Segera

   Seorang da'i mengatakan bahwa ada seseorang telah dizhalimi dengan kesaksian palsu atas tanah miliknya.
Diceritakan bahwa ada seorang pria berhasrat ingin memiliki tanahnya tersebut, sebab tanah itu berada di depan rumahnya. Ia ingin menjadikannya sebagai tempat parkir mobilnya. Kemudian, ia pun mulai mengukur tanah tersebut. Mengetahui hal itu, sang pemilik tanah pun menghampirinya dan berkata:

Buah Kezhaliman (2)

Seorang peria berinisial SW mengisahkan pengalaman pahitnya sebagai berikut:

   Saat aku masih duduk di bangku SMA, terjadi sebuah pertengkaran hebat antara aku dan salah seorang siswa yang berprestasi. Setelah pertengkaran itu, aku berketetapan hati untuk menghancurkan masa depannya.

Kelamnya Kezhaliman

  Sepenggal kisah yang lain diceritakan oleh seorang pria berinisial SD, Ia menuturkannya sebagai berikut:

  Dahulu, aku memiliki sebidang tanah pertanian. Tepat di sampingnya ada sepetak ladang milik seseorang. Sudah cukup lama aku usahakan agar ia merelakan tanahnya itu untukku, namun ia enggan.

Buah Kezhaliman

NR, Wanita yang sehari-hari bekerja sebagai dosen di sebuah universitas, dua kali ia mengalami kegagalan dalam membangun bahtera rumah tangga. Ia menuturkan kisahnya:

  Kisah kezhalimanku terjadi tujuh tahun yang lalu. Setelah perceraian yang ke dua, aku berencana untuk menikah lagi dengan salah seorang pria yang masih ada pertalian keluarga.

Buah Keikhlasan

  Ini kisah nyata yang terjadi di negeri Palestina. Kisah tentang kepahlawanan seorang pemuda mujahid dan ahli ibadah.

  Pada suatu malam yang berdarah. Pasukan imperialis mengendap-endap mengincar seorang pemuda Palestina. Tembakan demi tembakan mereka lepaskan ke arahnya, tentu saja untuk membunuhnya. Dengan langkah cepat, pemuda itu lari menyelamatkan diri, tanpa tahu kemana arah langkah kaki membawanya. Sebuah pintu rumah diketuknya. Seorang lelaki paruh baya membukakan pintu. Ia pun menceritakan ihwahnya pada laki-laki tersebut.