Seorang kawan menuturkan sebuah kisah.
Pernah suatu hari, aku berdiri di depan seorang penjual buah, hendak membeli jeruk lemon. Kumasukkan jeruk pilihanku ke dalam timbangan. Sembari memberikan kantong, aku katakan pada penjual itu, "Aku mau setengah kilogram jeruk lemon."
Ia letakkan jeruk lemon itu ke dalam wadah timbangan, dan anak timbangan pada sisi lainnya. Ternyata beban masih lebih berat di sisi anak timbangan. Kemudian ia tambahkan dengan sebuah jeruk lemon kecil. Wadah timbangan pun terantuk menunjukkan bahwa berat timbangan kini telah berimbang.
Aku terdiam dalam bisu, pikiran melayang saat pandangan mataku memperhatikan peristiwa yang amat penting itu. Sesuatu yang hampir meruntuhkan hatiku. Betapa tidak, jeruk lemon kecil yang luput dari pilihanku, dialah yang menyebabkan berat timbangan menjadi berimbang.
Subhanallah, Mahasuci Allah. Pikiranku melayang, membayangkan bila diriku telah tutup usia. Maut datang secara tiba-tiba, tanpa pemberitahuan. Terhentilah amal perbuatanku. Jasadku dimasukkan ke dalam liang kubur, dalam kesepian dan kesunyian. Tiada yang berkenan menemani, selain amal perbuatanku. Kemudian ditiuplah sangkakala, membangkitkan para penghuni kubur, tak terkecuali aku. Aku bangun dalam kesendirian, melihat apa yang di sekelilingku. Tiada ayah kudapati, tidak pula ibu, tidak pula saudara, paman, kekasih atau pun sahabat. Mereka semua berdiri dalam kehinaan dan ras takut. Mereka resah menunggu keputusan atas nasib mereka sendiri. Sedang matahari dekat di atas kepala. Banjir keringat tiada terkira. Berdiri sepanjang waktu. Seluruh umat manusia merendahkan diri di hadapan Allah. Mereka memohon syafaat dari Rasulullah, berharap agar hisab, perhitungan amal segera dimulai, pada hari yang lamanya lima puluh ribu tahun. Langit terbelah, memancarkan air. Mata terbelalak ketakutan dan cahaya bulan lenyap menghilang. Kemudian datanglah Tuhanmu, sedang para malaikat berbaris rapi. Pada hari itu, diperlihatkan Neraka Jahanam. Pada hari itu ingatlah manusia, tetapi ingatannya itu tiada berguna lagi baginya. Lalu, dimulailah perhitungan amal perbuatan setiap manusia. Setiap mereka dipanggil sesuai namanya, untuk menghadap Tuhannya, saksikan oleh-Nya, untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya. Atas apa yang diperbuat tangannya, kemana kakinya melangkah dan apa yang didengar telinganya. Juga apa yang dilihat kedua matanya, apa yang diucapkan kedua bibirnya, apa yang dimasukkan dalam perutnya, juga apa yang diperbuat kelaminnya. Iya, Allah membuka segala rekaman cerita dunia padanya, "Hambaku, engkau telah melakukan ini, ini dan ini, serta pada hari ini dan hari itu."
Lalu diperlihatkan padanya dosa-dosa dan kemaksiatan yang pernah dilakukannya dengan terang-terangan, penuh bangga dan suka ria. Semua dosanya, kecil atau besar, ringan atau berat. Yang demikian itu didapatnya dalam catatan amal perbuatannya. Sekecil apapun dosa tidak akan luput dari perhitungan-Nya. Maka, akan didapatinya perbuatan-perbuatan yang sebelumnya tidak diperhitungkan, tertulis dalam buku catatan itu dan diperhitungkan, walau sekedar sekejap pandang, sepatah kata atau pun sekedar sentuhan.
Lalu pikiranku melayang, membayangkan diri berada di hadapan timbangan amal perbuatan. Sedang amal perbuatan baikku telah diletakkan di sini, sementara di sana amal perbuatan burukku. Lalu aku berkata,
"Perbuatan baik apa yang telah kulakukan di dunia, sehingga akan memperberat timbangan amalku, sebagai penebus amal buruk yang secara terang-terangan kulakukan siang dan malam tanpa perasaan malu, manyia-nyiakan shalat, mengabaikan zakat, mendurhakai orang tua, menggunjing, mengadu domba, mencaci maki, menghina, meremehkan, bersenandung, mendengarkan nyanyian, berdansa, bermain musik, bersoleh untuk orang lain, berpesta, bergosip, merokok, mabuk, cinta palsu dan rindu yang membelengguku, yang menghanyutkanku dalam kenikmatan sesaat. Dengan semua itu aku lupa telah bermaksiat pada-Nya. Tuhan, terimalah taubat kami, ampunilah dosa kami dan janganlah Engkau mencabut nyawa kami melainkan Engkau telah meridhai kami.
Lalu, aku membayangkan diri berdiri di hadapan timbangan dengan mata kepala, pikiran dan hatiku, kulihat amal perbuatanku ditimbang. Entah akan meringankan siksaku atau sebaliknya. Kebaikan demi kebaikan diletakan menjadi pemberat disatu sisi timbangan. Sementara keburukan demi keburukan diletakkan menjadi pemberat disisi yang lain. Shalatku ditimbang dengan menggunjing dan mengadu domba. Sementara zakat dan puasaku ditimbang dengan durhakaku terhadap orang tua, bersolek, cinta palsu dan mendengarkan nyanyian. Timbangan berderak-derak dihadapan sementara hatiku berdegup tidak karuan. Aku membayangkan bagaimana bila ternyata amal buruk lebih berat daripada amal baikku. Dan tersisa satu kebaikan yang akan memberatkan timbanganku, yang akan menyelamatkan aku dari siksa api neraka dan mengantarkan aku masuk ke surga.
Aku ingin stu kebaikan yang dapat memasukkan ku ke dalam surga. Aku ingin satu kebaikan yang dapat menyelamatkanku dari murka Allah yang Maha Kuasa. Aku ingin satu kebaikan. Ayah, beri aku satu kebaikan. Ibu, beri aku satu kebaikan. Saudaraku, beri aku satu kebaikan. Isteriku, beri aku satu kebaikan. Anakku, beri aku satu kebaikan. Namun semua itu sia-sia belaka. Tak seorang pun dapat memberimu kebaikan, sebab, semuanya disibukkan dengan timbangan amal perbuatannya sendiri. Mereka tidak akan memberikan manfaat bagimu. Kendati pun engkau adalah orang yang dicintainya. Kendatipun engkau telah melakukan apa saja yang menyenangkan hatinya di dunia. Ya, mereka akan lari darimu. Semua akan menjauh darimu. Dan semuanya akan mengatakan satu kata yang sama, "Nafsi, nafsi (masing, masing)."
Allah Ta'ala berfirman: "Pada hari itu manusia lari dari saudanya, dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya, Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya." (QS.Abasa:34-37)
Di saat itu, ia berangan-angan, sebagaimana firman Allah SWT: "...dia berkata, 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah au tinggalkan..." (QS.Al-Mukminun:99-100)
Dan saat ia sedang menyesal, Allah berfirman: "Dia berkata,'Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini." (QS.Al-Fajr:24)
Namun, angan-angan itu juga sia-sia. Saat ia berkata, "Sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), tentu aku termasuk orang-orang yang berbuat baik." (QS.Az-Zumar:58).
Dan tatkala ia menyesal, sementara penyesalan tiada berguna dihari itu, tidak pula tangisan ataupun duka cita. Demikian ini bagi yang berharap satu kebaikan saja. Lalu bagaimana dengan yang berharap banyak kebaikan sebagai pemberat timbangannya?! Bagaimana dengan ia yang tidak melakukan selain keburukan di masa hidupnya?! Bagaimana dengan ia yang ambisinya hanya untuk mengumpulkan harta benda, menguras keluarga, berpesta, film, mendengarkan nyanyian, berlomba, bermain dengan wanita, baju, minyak wangi, kosmetik, perhiasan atau rokok?
Ketahuilah wahai saudaraku, barangkali salah satu dari perbuatan tersebut atau yang lainnya akan memberatkan timbangan amal buruk di akhirat.
Saudaraku, nafsu syahwat itu kenikmatan sesaat, yang akan berujung pada penyesalan. Dimana pemuda, pemudi, nyanyian, film, dan dunia dengan segala isinya tidak boleh sedikitpun membuat seseorang menyia-nyiakan ridha Allah Ta'ala. Dunia tiada lain sebatas rumah ujian bagi kita. Tidak kekal. Tidak pula ada kenikmatan yang abadi di dalamnya, Sementara akherat, ia negeri kebahagiaan dan kenikmatan bagi siapa yang mendapatkan ridha Allah dan menahan diri dari hawa nafsu.
Artikel terkait
No comments:
Post a Comment