
Beberapa hari sebelumnya, datang pada kami wanita asing dengan terengah-engah, Semua orang terenyuh mendengar kisahnya, yang pada akhirnya kami pun sepakat untuk menerimanya. Tampaknya ia berasal dari pedalaman desa, bingung mencari tempat perlindungan. Mencari seteguk air yang dapat memuaskan dahaga dan menghapus rasa sakit dalam hatinya. Ia menuturkan,
"Masalahku amat besar. Aku malu untuk mengungkapkannya. Cukup lama aku menyimpan resah, mencari seseorang yang mau meraih tanganku dan membantuku keluar dari kungkungan masalah. Namun, hal itu tidak pernah terjadi. Yang ada hanya kegagalan demi kegagalan. Aku tak kuasa menceritakan semua ini kepada ibu dan saudara, tidak pula kepada teman-teman."
Tampaknya wanita itu benar-benar hidup dalam kenestapaan, dengan rasa sakit yang sudah di ambang batas, sampai ia merasa sudah tidak pantas lagi hidup.
"Aku bersumpah demi Allah, dunia tampak hitam di mataku. Aku berpikir untuk mengakhiri hidup. Aku ingin bunuh diri."
Kemaksiatan adalah celaka. Betapa tragisnya kecelakaan itu. Dunia tampak gelap di mata pendosa. Ia sadar, bahwa nikmatnya maksiat tidak akan bertahan lama. Ia dapat membuat pelakunya membenci dunianya dan membuat orang-orang di sekitarnya lari meninggalkannya. Meskipun seandainya ia telah lari dari semua itu.
Di mana ruang bagi hati yang telah membunuh? Kemana ia akan lari dari Allah yang Maha Mengetahui hal yang ghaib? Bahkan, apa yang akan terjadi andai ia bunuh diri? Maksiat bertumpuk maksiat, yang mengantarkannya menuju Neraka, seburuk-buruk tempat kembali.
Ia berkenalan dengan seorang pemuda. Lebih licik dari serigala, lebih buas dari binatang buas, Ia menodai kehormatan orang lain, bahkan ia langgar hukum Allah. Dan sayangnya, korban terus saja berjatuhan. Ya Allah, jagalah pemuda-pemudi umat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.
"Hubungan itu awalnya biasa. Kami sekedar bercerita tentang hal-hal yang wajar. Tentang saudaranya, ibunya dan kemana kita akan pergi." Dari sini, tipu daya dimulai!. Ia menyebarkan jaring laba-laba, menjerat mangsanya yang sedang lengah.
"Ia ingin bertemu denganku. Dan aku katakan kepadanya, untuk apa? Aku tidak mungkin keluar bersamamu begini tanpa hijabku. Dan sungguh, aku memang tidak bisa keluar. Keluargaku akan membunuhku jika mereka tahu."
Kemaksiatan menarik pelakunya, selangkah demi selangkah.
Pria itu berkata, "Aku mencintaimu dan engkau tahu bahwa aku mengkhawatirkanmu." Ia lancarkan rayuannya. Aku pun menjawab, "Baiklah."
Cinta apakah itu? Budi pekerti apakah semacam itu? Sayangnya, pria itu bisa meluluhkannya hanya dengan kata-kata kering, yang jauh dari rasa cinta yang sebenarnya. Bahkan, yang sebenarnya, na'udzubillah, itu hanya hasrat untuk memangsa, Sayangnya, keduanya pun akhirnya bertemu.
Wanita itu keluar tanpa sepengetahuan keluarganya. Tetapi Allah tidaklah lalai dengan apa yang dilakukan pendosa. Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. Lalu kenikmatan maksiat semakin menggelora. Sehingga ia akan keluar dari batas kemanusiaannya, berubah serupa binatang. Tujuannya hanya melampiaskan nafsu syahwatnya. Sayang sekali, saat itu iman meredup darinya. Harga diri dan akhlaknya hilang, membuat pemuda itu tertawa kegirangan. Keduanya pun jatuh pada hal yang terlarang dan dosa. Pemuda itu tidak sedang menertawakannya, tetapi keduanya ditertawakan oleh setan. Saat dinding-dinding mengadukan, juga langit dan bumi. Bahkan semua makhluk mengadukan mereka kepada Pencipta langit dan bumi. Mereka mengadu,
"Hai anak cucu Adam. Kami terhalang dari kebaikan, akibat ulah maksiatmu." Sungguh, kemaksiatan itu celaka bagi keduanya, juga bagi masyarakat. Bahkan bagi seluruh penghuni alam semesta.
Tampaknya Allah masih sayang dan bermurah hati pada wanita itu. Begitu juga keluarganya yang masih berbelas kasih padanya, melindunginya, menutup lembaran kisah silamnya, demi menjaga kesucian dan kehormatannya. Ya Tuhan, kami telah memancing murka-Mu dengan kemaksiatan, namun Engkau masih menyelamatkan kami, bahkan setelah itu Engkau berkenan mengampuni kami. Betapa Maha Agungnya Engkau. Betapa bijaksana Engkau. Jika kami mampu untuk melakukan kemaksiatan, sementara Engkau lebih kuasa dengan ampunan.
"Aku tidak memperkenankannya untuk merenggut keperawanan dan kesucian," terang wanita itu.
Akan tetapi, pria itu tetap saja mendekatinya, sampai wanita itu mengira bahwa ia telah hamil, kendati pun keperawanannya belum terenggut.
Begitulah, Allah menghendaki agar ia mengira demikian, sehingga ia mau kembali kepada-Nya. Sehinnga ia ingat apa saja yang telah diperbuatnya. Kemudian pengaruh kemaksiatan mulai tampak, lalu diikuti penyesalan dan taubat dalam hati.
"Karena mereka tahu, atau telah terjadi sesuatu yang membuatku takut, dan aku yakin seyakin-yakinnya, ayah dan ibuku tidak akan tenang dan tersiksa bila mengetahui hal itu. Mereka telah lelah dan bersusah payah mendidik serta membesarkanku. Tidak pernah mereka mengabaikanku, demi kebahagiaan kami, anak-anaknya," lanjutnya.
Kemudian wanita itu meyakinkan bahwa ia beriman kepada Allah dan bersumpah tidak akan mengulangi hal itu. Bagaimana ia bisa mengulangi, padahal ia telah jatuh ke dalam jurang? Bagaimana ia akan berani mengulangi, sementara ia telah diselamatkan oleh Allah, dan Dia Tuhan yang telah mengasihani dan menyayanginya dengan penuh perhatian? Setelah malam-malam pahit itu berlalu, ternyata tanda keperawanannya masih terjaga, pun tanda ketidak-hamilannya. Menandakan kesucian dan keanggunan budi pekertinya. Dan, wanita itu tersungkur sujud kepada Tuhannya, dengan penuh syukur.
Artikel terkait
No comments:
Post a Comment