Buah Keikhlasan

  Ini kisah nyata yang terjadi di negeri Palestina. Kisah tentang kepahlawanan seorang pemuda mujahid dan ahli ibadah.

  Pada suatu malam yang berdarah. Pasukan imperialis mengendap-endap mengincar seorang pemuda Palestina. Tembakan demi tembakan mereka lepaskan ke arahnya, tentu saja untuk membunuhnya. Dengan langkah cepat, pemuda itu lari menyelamatkan diri, tanpa tahu kemana arah langkah kaki membawanya. Sebuah pintu rumah diketuknya. Seorang lelaki paruh baya membukakan pintu. Ia pun menceritakan ihwahnya pada laki-laki tersebut.


"Silahkan masuk. tenang saja, kamu aman disini." ucap pria itu.
Tak lama, selang beberapa menit, suara ketukan keras terdengar dari balik pintu.

"Buka pintu atau akan kami ledakan!" teriak suara dari luar.
Pria itu kebingungan, entah kemana ia akan menyembunyikan pemuda itu, khawatir mereka akan membunuhnya. Sedangkan di dalam kamar mandi, ada putrinya yang sedang mandi. Maka, apa yang terjadi?.

"Cepat masuk ke kamar mandi!" pinta pria pemilik rumah itu.
Pemuda itu menolak permintaannya.

"Biar aku keluar saja menghadapi mereka," ucapnya bersikukuh.
Namun, di dorongnya pemuda itu ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya rapat. Kemudian ia pun membukakan pintu rumahnya untuk menemui para tentara.

  Para pasukan imperialis pun masuk dan menggeledah seluruh isi rumah, termasuk semua kamar, kecuali kamar mandi. Saat para pasukan itu telah putus asa menemukan sasarannya, mereka pun menarik diri keluar dengan tangan hampa. Pemuda itu pun keluar dari kamar mandi. Sungguh aneh, tiba-tiba saja lidahnya kelu, tak sanggup ia berkata-kata tuk sekadar mengucap terima kasih atas kebaikan pria pemilik rumah. Dengan linangan air mata ia pun kemudian mencium kedua tangan si pemilik rumah, sesaat sebelum ia pergi.

  Pada hari berikutnya, pemuda itu datang dengan membawa kedua orang tuanya melamarkan anak gadis pemilik rumah itu untuknya.

"Aku tidak ingin pernikahan anakku dengan seorang lelaki didasari oleh rasa terima kasih dan balas budi." ucap ayah gadis itu.

"Demi Allah, wahai paman, dalam mimpi aku melihat putrimu sedang dikelilingi oleh para wanita berpakaian serba putih. Ia bergegas datang menghampiriku dan kuraih kedua tangannya. Lalu dari tangan kami, keluar secarik kertas putih bertuliskan: "Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula)". (QS.An-Nur:26)

  Mendengar itu, si ayah tersentuh hatinya. Matanya berkaca-kaca.

"Anakku, aku terima lamaranmu dengan senang hati, inilah putriku sebagai istrimu, dengan mahar 1 lira emas," ucap si ayah dengan hati penuh suka cita.

  Begitulah, saat ini keduanya hidup bahagia, penuh dengan cinta dan kasih sayang, berlandaskan keikhlasan.

Artikel terkait

No comments:

Post a Comment