
Korban Terus Berjatuhan

Yang Tertipu

Nasehat yang Menjerumuskan
Dahulu, aku tak dapat melihat kebenaran, pun tak dapat menerimanya. layaknya sebuah mainan, hidupku selalu diatur oleh kakak perempuanku. Ia istri dari seorang pria lugu, tidak memiliki kepribadian yang kuat. Segala urusan rumah tangga diserahkan dan diatur sepenuhnya oleh kakakku.
Saat-saat Penyesalan yang Lama
Seorang kawan menuturkan sebuah kisah.
Pernah suatu hari, aku berdiri di depan seorang penjual buah, hendak membeli jeruk lemon. Kumasukkan jeruk pilihanku ke dalam timbangan. Sembari memberikan kantong, aku katakan pada penjual itu, "Aku mau setengah kilogram jeruk lemon."
Pernah suatu hari, aku berdiri di depan seorang penjual buah, hendak membeli jeruk lemon. Kumasukkan jeruk pilihanku ke dalam timbangan. Sembari memberikan kantong, aku katakan pada penjual itu, "Aku mau setengah kilogram jeruk lemon."
Penyesalan
Seorang wanita menuturkan kisah penyesalannya.
Aku wanita berusia 23 tahun. Pernah mengalami satu trauma akibat kecerobohanku sendiri. Sungguh, kuakui, aku pernah melakukan satu kesalahan yang membuatku harus menyesalinya sepanjang hidup. Sebuah kesalahan yang membuatku tenggelam dalam lautan penyesalan.
Aku wanita berusia 23 tahun. Pernah mengalami satu trauma akibat kecerobohanku sendiri. Sungguh, kuakui, aku pernah melakukan satu kesalahan yang membuatku harus menyesalinya sepanjang hidup. Sebuah kesalahan yang membuatku tenggelam dalam lautan penyesalan.
Balasan yang Segera
Seorang da'i mengatakan bahwa ada seseorang telah dizhalimi dengan kesaksian palsu atas tanah miliknya.
Diceritakan bahwa ada seorang pria berhasrat ingin memiliki tanahnya tersebut, sebab tanah itu berada di depan rumahnya. Ia ingin menjadikannya sebagai tempat parkir mobilnya. Kemudian, ia pun mulai mengukur tanah tersebut. Mengetahui hal itu, sang pemilik tanah pun menghampirinya dan berkata:
Diceritakan bahwa ada seorang pria berhasrat ingin memiliki tanahnya tersebut, sebab tanah itu berada di depan rumahnya. Ia ingin menjadikannya sebagai tempat parkir mobilnya. Kemudian, ia pun mulai mengukur tanah tersebut. Mengetahui hal itu, sang pemilik tanah pun menghampirinya dan berkata:
Buah Kezhaliman (2)
Seorang peria berinisial SW mengisahkan pengalaman pahitnya sebagai berikut:
Saat aku masih duduk di bangku SMA, terjadi sebuah pertengkaran hebat antara aku dan salah seorang siswa yang berprestasi. Setelah pertengkaran itu, aku berketetapan hati untuk menghancurkan masa depannya.
Saat aku masih duduk di bangku SMA, terjadi sebuah pertengkaran hebat antara aku dan salah seorang siswa yang berprestasi. Setelah pertengkaran itu, aku berketetapan hati untuk menghancurkan masa depannya.
Kelamnya Kezhaliman
Sepenggal kisah yang lain diceritakan oleh seorang pria berinisial SD, Ia menuturkannya sebagai berikut:
Dahulu, aku memiliki sebidang tanah pertanian. Tepat di sampingnya ada sepetak ladang milik seseorang. Sudah cukup lama aku usahakan agar ia merelakan tanahnya itu untukku, namun ia enggan.
Dahulu, aku memiliki sebidang tanah pertanian. Tepat di sampingnya ada sepetak ladang milik seseorang. Sudah cukup lama aku usahakan agar ia merelakan tanahnya itu untukku, namun ia enggan.
Buah Kezhaliman
NR, Wanita yang sehari-hari bekerja sebagai dosen di sebuah universitas, dua kali ia mengalami kegagalan dalam membangun bahtera rumah tangga. Ia menuturkan kisahnya:
Kisah kezhalimanku terjadi tujuh tahun yang lalu. Setelah perceraian yang ke dua, aku berencana untuk menikah lagi dengan salah seorang pria yang masih ada pertalian keluarga.
Kisah kezhalimanku terjadi tujuh tahun yang lalu. Setelah perceraian yang ke dua, aku berencana untuk menikah lagi dengan salah seorang pria yang masih ada pertalian keluarga.
Buah Keikhlasan
Ini kisah nyata yang terjadi di negeri Palestina. Kisah tentang kepahlawanan seorang pemuda mujahid dan ahli ibadah.
Pada suatu malam yang berdarah. Pasukan imperialis mengendap-endap mengincar seorang pemuda Palestina. Tembakan demi tembakan mereka lepaskan ke arahnya, tentu saja untuk membunuhnya. Dengan langkah cepat, pemuda itu lari menyelamatkan diri, tanpa tahu kemana arah langkah kaki membawanya. Sebuah pintu rumah diketuknya. Seorang lelaki paruh baya membukakan pintu. Ia pun menceritakan ihwahnya pada laki-laki tersebut.
Subscribe to:
Posts (Atom)